Featured post

Harian Asia Raya Memberitakan Janji Jepang untuk Kemerdekaan Indonesia, 1944

ASIA - RAYA ||   Waktu: September 1944 Tempat: Tokoh: Peristiwa: Harian Asia Raya terbitan 8 September 2604 (=1944) memberitakan janji...

Kerjasama Irak-SDF Perkuat Posisi Kurdi di Depan Damaskus


Di tengah dinamika politik Suriah yang terus berubah pasca-jatuhnya rezim Bashar al-Assad, sebuah operasi militer gabungan baru-baru ini menjadi sorotan internasional. 

Pada 18 Desember 2025, pasukan koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat melakukan pendaratan udara di wilayah selatan Al-Hasakah, Suriah timur laut, dengan partisipasi unit khusus dari Irak.

Operasi ini menargetkan sel-sel aktif ISIS, menunjukkan kerjasama lintas batas yang semakin erat antara berbagai aktor regional.

Partisipan utama dalam operasi tersebut mencakup Pasukan Demokratik Suriah (SDF), yang didominasi kelompok Kurdi, serta unit Falcon Intelligence Cell dari Irak.

Koordinasi ini difasilitasi oleh Komando Pusat AS (CENTCOM), yang memastikan dukungan udara dan logistik. Lokasi operasi di desa Sakandaroun dan Rabi’a, dekat perbatasan Suriah-Irak, menjadi pilihan strategis untuk memutus rantai pasok teroris.

Menurut berbagai laporan, operasi ini berhasil menangkap beberapa tersangka yang diburu pengadilan Irak. Ini merupakan aksi kedua dalam waktu kurang dari 24 jam, setelah serangan serupa di wilayah Al-Raqqah. 

Keberhasilan tersebut menegaskan peran SDF sebagai mitra kunci bagi Irak, AS dkk dalam perang melawan terorisme.

Konteks lebih luas dari operasi ini terkait dengan transisi politik di Suriah. Sejak akhir 2024, pemerintahan interim di Damaskus di bawah Presiden Ahmed al-Sharaa berupaya menyatukan negara yang terpecah belah. Namun, wilayah timur laut yang dikuasai SDF tetap menjadi zona abu-abu, dengan negosiasi integrasi yang sedang berlangsung sejak Maret 2025.

Kerjasama dengan pasukan Irak, meskipun bersifat teknis dan operasional, memberikan legitimasi tambahan bagi SDF. Irak, yang secara resmi mengakui pemerintahan Damaskus sebagai otoritas sah Suriah, tidak secara langsung mendukung otonomi Kurdi. 

Namun, partisipasi dalam operasi bersama ini menunjukkan pengakuan implisit atas kemampuan SDF di lapangan.

Analogi dengan hubungan China-Taiwan dalam dunia olahraga membantu memahami dinamika ini. Seperti bagaimana Republik Rakyat China bermain sepak bola melawan tim "Chinese Taipei" tanpa mengakui kedaulatan Taiwan, Irak berkooperasi dengan SDF tanpa memberikan pengakuan politik formal.

Kerjasama ini difasilitasi oleh pihak ketiga, dalam hal ini koalisi AS, mirip FIFA dalam sepak bola.

Pragmatisme menjadi kunci di balik kerjasama tersebut. Irak membutuhkan dukungan SDF untuk mengejar buronan yang melarikan diri ke Suriah, sementara SDF memanfaatkan operasi ini untuk memperkuat posisinya. Di tengah ancaman Turki yang menganggap SDF terkait dengan organisasi teroris PKK, dukungan dari Irak dan AS menjadi tameng penting.

Pemerintahan interim Damaskus, yang masih bergulat dengan rekonstruksi pasca-perang sipil, menghadapi tantangan dalam mengintegrasikan SDF ke dalam angkatan bersenjata nasional. Begitu juga tantangan dari mikisi Druze Hikmat Al Hajri di Suwaida yang didukung Israel dalam proyek neokolonialisme Greater Israel.

Menurut pernyataan AS pada Desember 2025, integrasi SDF ke tentara Suriah adalah kunci stabilitas regional. Namun, kerjasama teknis seperti ini memberi SDF leverage lebih besar dalam negosiasi.

Dengan partisipasi Irak, SDF tidak lagi terlihat sebagai entitas separatis semata, melainkan mitra keamanan yang diakui secara fungsional. Ini memperkuat posisi mereka vis-à-vis Damaskus, karena menunjukkan bahwa SDF memiliki dukungan internasional yang kuat, termasuk dari negara tetangga seperti Irak.

Implikasi jangka panjang dari kerjasama ini adalah penguatan bargaining power SDF. Dalam negosiasi dengan Damaskus, SDF bisa menuntut otonomi lebih luas atau jaminan hak Kurdi karena merasa memiliki posisi lebih kuat.

Pemerintahan Damaskus, yang masih membangun negara pasca Assad, harus berhati-hati dalam menghadapi SDF.

Tekanan dari AS untuk integrasi damai berarti bahwa isolasi SDF bisa merugikan stabilitas kepentingan AS dkk yang bisa membuat posisi Damaskus menjadi tidak aman.

Kerjasama teknis ini juga berdampak pada hubungan regional lebih luas. Turki, yang sering melakukan operasi melawan SDF, mungkin melihat ini sebagai tantangan.

Namun, bagi Irak, prioritas adalah keamanan perbatasan, bukan politik internal Suriah.

Dalam laporan Security Council Report untuk Desember 2025, disebutkan bahwa pemerintahan interim Suriah menghadapi banyak tantangan, termasuk integrasi wilayah Kurdi. Operasi seperti ini mempercepat proses tersebut, tapi dengan SDF yang semakin kuat.

Akhirnya, kerjasama Irak-SDF menunjukkan bahwa di balik ketegangan politik, kepentingan keamanan bersama bisa menjadi jembatan. Ini memperkuat posisi SDF sebagai aktor yang tak tergantikan dalam perang melawan terorisme, sehingga Damaskus harus menawarkan konsesi lebih besar untuk integrasi.

Para analis percaya bahwa tanpa dukungan AS dkk seperti ini, SDF akan kesulitan menekan posisi Damaskus atau Turki. Kerjasama teknis ini memberikan SDF ruang domnasi, memperpanjang negosiasi yang membuatnya mirip Taiwan yang sampai sekarang tak berintegrasi dengan Tiongkok.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kerjasama Irak-SDF Perkuat Posisi Kurdi di Depan Damaskus"

Post a Comment