Penggunaan peluncur roket GRAD oleh Angkatan Darat Suriah kembali menjadi sorotan setelah sistem tersebut dilaporkan digunakan dalam operasi terbaru melawan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) di poros Deir Hafer. Senjata ini disebut sebagai hasil produksi dalam negeri Suriah.
Sistem yang digunakan tersebut tergolong Multiple Launch Rocket System (MLRS), yakni peluncur roket berganda yang mampu menembakkan puluhan roket dalam satu kali salvo. Dalam konteks ini, GRAD merujuk pada sistem roket kaliber 122 mm yang desain dasarnya berasal dari era Soviet.
GRAD dikenal luas sebagai senjata artileri roket yang menitikberatkan pada daya hancur area, bukan presisi titik. Karakter ini menjadikannya efektif untuk menekan konsentrasi pasukan lawan sebelum atau selama operasi darat berlangsung.
Menurut informasi yang beredar, roket dan peluncur GRAD yang digunakan di Deir Hafer diproduksi oleh perusahaan Ra’ed, sebuah entitas industri pertahanan yang berada di bawah arahan Kementerian Pertahanan Suriah. Produksi ini disebut sepenuhnya dilakukan di dalam negeri.
Keberadaan produksi lokal ini mencerminkan upaya Suriah membangun kemandirian militer di tengah tekanan sanksi internasional. Ketergantungan pada impor senjata menjadi semakin sulit, sehingga pengembangan dan produksi lokal menjadi pilihan strategis.
Secara teknis, MLRS GRAD terdiri dari sejumlah tabung peluncur yang dipasang di atas kendaraan truk. Sistem ini memungkinkan peluncuran roket secara beruntun dalam waktu singkat, menciptakan efek kejut yang besar di medan tempur.
Jangkauan roket GRAD bervariasi tergantung varian, umumnya berkisar antara 20 hingga 40 kilometer. Dalam konflik Suriah, jangkauan ini dinilai cukup untuk mendukung operasi di wilayah terbuka seperti Deir Hafer.
Penggunaan GRAD di poros timur Aleppo dan Deir Hafer juga menunjukkan bahwa medan operasi masih cocok untuk artileri roket konvensional. Wilayah semi-gurun dan garis depan yang relatif terbuka menjadi lingkungan ideal bagi MLRS.
Meski disebut sebagai inovasi Suriah, sistem GRAD yang diproduksi lokal bukanlah teknologi baru. Desain dasarnya telah digunakan puluhan tahun oleh berbagai negara, namun nilai utamanya terletak pada kemampuan Suriah mereproduksi sistem tersebut secara mandiri.
Produksi lokal memungkinkan modifikasi sesuai kebutuhan operasional. Suriah diduga menyesuaikan sistem peluncur, kendaraan pengangkut, serta jenis hulu ledak agar sesuai dengan kondisi medan dan jenis target.
Dalam konteks pertempuran melawan SDF, GRAD berfungsi sebagai alat suppressive fire. Roket ditembakkan untuk menekan pergerakan lawan, menghancurkan posisi pertahanan, dan mengganggu logistik.
Namun, penggunaan MLRS juga memiliki keterbatasan. Akurasi yang rendah dibanding sistem roket presisi modern membuat GRAD kurang cocok untuk operasi di kawasan padat penduduk tanpa risiko kerusakan luas.
Karena itu, penggunaannya biasanya dilakukan di area terbuka atau pada tahap awal operasi militer. Dalam banyak kasus, GRAD digunakan untuk membuka jalan sebelum pasukan darat bergerak maju.
Dibandingkan sistem modern seperti HIMARS milik Amerika Serikat, GRAD berada di kelas teknologi yang jauh lebih sederhana. HIMARS mengandalkan roket berpemandu presisi, sementara GRAD mengandalkan volume tembakan.
Meski demikian, kesederhanaan GRAD justru menjadi keunggulan dalam konflik berkepanjangan. Biaya produksi lebih murah, perawatan lebih mudah, dan suku cadang dapat dibuat secara lokal.
Bagi Angkatan Darat Suriah, keberhasilan memproduksi MLRS sendiri berarti kontinuitas daya tembak dapat dipertahankan tanpa ketergantungan eksternal. Ini menjadi faktor penting dalam konflik yang belum sepenuhnya berakhir.
Produksi GRAD oleh perusahaan Ra’ed juga menunjukkan bahwa industri pertahanan Suriah masih berfungsi meski infrastruktur negara terdampak perang. Kapasitas ini dianggap sebagai aset strategis jangka panjang.
Di medan tempur, kehadiran MLRS lokal memberi fleksibilitas tambahan bagi komando militer. Sistem dapat dikerahkan dengan cepat dan dipindahkan sesuai kebutuhan taktis.
Namun, penggunaan artileri roket tetap membawa konsekuensi politik dan kemanusiaan. Setiap operasi harus mempertimbangkan dampak terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil di sekitar area konflik.
Secara keseluruhan, GRAD buatan lokal Suriah menegaskan bahwa sistem tersebut memang sejenis MLRS, dengan peran klasik sebagai senjata artileri area. Nilainya bukan pada kecanggihan teknologi, melainkan pada kemandirian dan keberlanjutan kekuatan militer.
Dalam perang modern yang menggabungkan teknologi tinggi dan senjata konvensional, GRAD tetap menjadi alat relevan. Bagi Suriah, sistem ini bukan sekadar senjata, melainkan simbol kemampuan bertahan dan beradaptasi di tengah konflik panjang.


0 Response to "Suriah Turunkan Grad Lokal di Operasi Keamanan Aleppo Timur"
Post a Comment