Pembangunan pangkalan militer Turki di Somalia kembali dipercepat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Tanduk Afrika. Langkah Ankara ini dipandang sebagai respons langsung atas manuver Israel yang disebut-sebut tengah menjajaki pendirian pangkalan militer di Somaliland, wilayah yang memproklamasikan kemerdekaan namun belum diakui secara luas oleh komunitas internasional.
Lokasi pangkalan Turki tersebut berada di Lasgari atau Lasgaray, wilayah yang termasuk dalam Administrasi Somalia Timur Laut dan berada di bawah otoritas resmi Pemerintah Federal Somalia. Percepatan pembangunan ini menandai keseriusan Turki dalam mempertahankan pengaruh strategisnya di Somalia, sekaligus menegaskan dukungannya terhadap keutuhan wilayah negara tersebut.
Turki selama satu dekade terakhir telah menjadi salah satu aktor asing paling berpengaruh di Somalia. Selain membangun pangkalan militer terbesar di luar negeri, Ankara juga terlibat dalam pelatihan tentara Somalia, proyek infrastruktur, hingga bantuan kemanusiaan yang memperkuat posisinya di mata pemerintah pusat di Mogadishu.
Masuknya isu Israel ke dalam dinamika ini memperumit peta politik regional. Pengakuan Israel terhadap Somaliland, menurut berbagai sumber, telah memicu kegelisahan di Mogadishu dan mendorong reaksi keras dari politisi Somalia yang berasal dari wilayah utara tersebut.
Situasi ini diperburuk dengan kabar pengunduran diri anggota parlemen Somalia, Cismaan Abokor Dubbe. Ia secara terbuka melepaskan jabatannya setelah pengakuan Israel terhadap Somaliland, sebuah langkah yang dinilai simbolik namun sarat makna politik.
Sumber-sumber politik di Somalia menyebutkan bahwa pengunduran diri tersebut berpotensi diikuti oleh anggota parlemen dan menteri lain yang berasal dari Somaliland namun selama ini masih berada dalam struktur pemerintahan federal Somalia. Mereka mulai mengambil jarak dari apa yang disebut sebagai lembaga negara yang “hanya simbolik”.
Seorang politisi senior yang dikutip media kawasan menyatakan tidak ada lagi alasan untuk menunggu. Menurutnya, Somaliland telah mencapai pengakuan internasional, sehingga keberadaan perwakilan wilayah tersebut di parlemen Somalia dianggap kehilangan makna politik dan legitimasi.
Pernyataan ini mencerminkan eskalasi serius dalam hubungan antara Mogadishu dan Hargeisa. Selama bertahun-tahun, Somaliland mempertahankan posisi de facto sebagai entitas terpisah, namun tetap menghadapi penolakan dari pemerintah pusat Somalia dan sebagian besar negara dunia.
Di tengah ketegangan ini, muncul pula spekulasi mengenai keterlibatan Mesir dalam pangkalan militer Turki di Lasgari. Mesir dipandang sebagai mitra paling potensial untuk menghadapi dan membendung rencana Uni Emirat Arab dan Ethiopia yang disebut-sebut ingin membangun pangkalan militer di Berbera, pelabuhan strategis di Somaliland.
Bagi Mesir, kehadiran di kawasan Tanduk Afrika memiliki nilai strategis yang tinggi, terutama terkait rivalitasnya dengan Ethiopia soal Bendungan Renaissance di Sungai Nil. Keterlibatan di Somalia dapat memperluas ruang manuver Kairo dalam menghadapi Addis Ababa.
Sementara itu, Uni Emirat Arab telah lama menunjukkan ketertarikan pada Berbera sebagai simpul logistik dan militer di jalur pelayaran Laut Merah dan Teluk Aden. Langkah ini dinilai Turki dan sekutunya sebagai ancaman langsung terhadap keseimbangan kekuatan regional.
Dimensi historis konflik ini juga tidak bisa diabaikan. Sebuah laporan CIA tahun 1979 mencatat adanya kerja sama Israel dan Ethiopia dalam mendukung kelompok oposisi Somalia. Dalam laporan tersebut, intelijen Ethiopia disebut menjanjikan konsesi wilayah kepada pemimpin berorientasi separatis jika mereka memisahkan diri dari Somalia.
Target utama dari upaya tersebut adalah bekas wilayah Somaliland Britania, kawasan yang kini kembali menjadi pusat tarik-menarik kepentingan global. Fakta sejarah ini memperkuat kecurigaan Mogadishu terhadap setiap langkah eksternal yang berkaitan dengan Somaliland.
Bagi Turki, percepatan pembangunan pangkalan di Lasgari bukan sekadar proyek militer. Langkah ini merupakan sinyal politik bahwa Ankara siap menjadi penyeimbang terhadap poros Israel, UEA, dan Ethiopia di kawasan tersebut.
Keberadaan pangkalan ini juga memperlihatkan perubahan karakter persaingan global di Afrika Timur. Jika sebelumnya kawasan ini didominasi oleh aktor Barat dan Teluk, kini Turki tampil sebagai pemain utama dengan pendekatan militer dan diplomasi yang lebih agresif.
Di sisi lain, Israel melihat Somaliland sebagai mitra strategis potensial di jalur Laut Merah, terutama dalam konteks keamanan maritim dan pengawasan regional. Namun langkah ini berisiko memicu instabilitas baru di Somalia yang masih rapuh pascakonflik panjang.
Reaksi keras dari politisi Somalia menunjukkan bahwa isu pengakuan Somaliland bukan sekadar persoalan luar negeri, tetapi menyentuh langsung fondasi negara Somalia itu sendiri. Retakan internal yang semakin lebar dapat melemahkan upaya rekonsiliasi nasional.
Pemerintah Federal Somalia hingga kini berusaha menegaskan kedaulatannya dengan menggandeng Turki sebagai mitra utama. Dukungan militer Ankara dipandang vital dalam menjaga stabilitas dan mencegah fragmentasi lebih lanjut.
Namun, dinamika ini juga membawa risiko. Persaingan pangkalan militer asing berpotensi menjadikan Somalia ajang kontestasi kekuatan regional dan global, sebagaimana pernah terjadi pada masa Perang Dingin.
Dengan percepatan pembangunan pangkalan Turki di Lasgari, pengunduran diri politisi, dan keterlibatan aktor eksternal seperti Israel, Mesir, UEA, dan Ethiopia, Tanduk Afrika kembali berada di persimpangan sejarah. Arah yang diambil dalam beberapa tahun ke depan akan menentukan apakah kawasan ini menuju stabilitas atau justru babak baru konflik berkepanjangan.


0 Response to "Perebutan Pangkalan di Tanduk Afrika Setelah Isu Somaliland"
Post a Comment