Featured post

Harian Asia Raya Memberitakan Janji Jepang untuk Kemerdekaan Indonesia, 1944

ASIA - RAYA ||   Waktu: September 1944 Tempat: Tokoh: Peristiwa: Harian Asia Raya terbitan 8 September 2604 (=1944) memberitakan janji...

Suriah dan Jalan Modernisasi Alutsista


Suriah di era Presiden Ahmed Al Sharaa terlihat semakin condong mengembangkan dan memproduksi drone sebagai tulang punggung kekuatan militernya. Perubahan ini dipengaruhi oleh pengalaman perang panjang, keterbatasan anggaran, serta efektivitas drone dalam konflik modern yang menuntut presisi dan biaya rendah.

Namun demikian, para pengamat militer menilai bahwa orientasi baru tersebut tidak seharusnya membuat Damaskus meninggalkan agenda modernisasi industri senjata konvensional yang dibangun sejak era Hafez dan Bashar al-Assad. Fondasi industri pertahanan lama justru menjadi modal penting untuk menopang transformasi militer Suriah ke depan.

Lembaga kunci dalam proses ini adalah Syrian Scientific Studies and Research Center atau SSRC. Selama puluhan tahun, SSRC menjadi otak pengembangan dan produksi berbagai sistem persenjataan, mulai dari senjata ringan hingga misil balistik, yang menopang kekuatan deterrence Suriah di kawasan.

Di sektor senjata infanteri, SSRC tercatat memproduksi Type 58 dan Type 68, varian senapan serbu berbasis AK, serta senapan anti-materiel Golan S‑01. Meski tergolong teknologi lama, senjata-senjata ini terbukti mudah dirawat dan tetap relevan untuk kebutuhan pertahanan darat serta milisi pendukung negara.

Pada ranah roket artileri, SSRC mengembangkan M‑220, M‑302 Khaibar‑1, S‑11 Burkan, serta seri Golan mulai dari Golan‑65 hingga Golan‑1000. Sistem MLRS ini menjadi tulang punggung daya gempur jarak menengah Suriah, terutama dalam konflik internal dan sebagai alat tekanan regional.

Kemampuan produksi roket ini dinilai masih penting, bahkan di era drone. Roket artileri memiliki keunggulan dalam saturasi target dan efek psikologis, sesuatu yang tidak selalu bisa dicapai oleh wahana nirawak bersenjata ringan.

Dalam bidang pertahanan udara, SSRC juga memodifikasi sistem S‑200 peninggalan Soviet. Walau dianggap usang oleh standar Barat, modernisasi lokal memungkinkan sistem ini tetap berfungsi sebagai lapisan pertahanan strategis terhadap ancaman udara jarak jauh.

Suriah juga pernah mengembangkan dan memproduksi berbagai misil balistik, termasuk Scud‑B, Scud‑C, Scud‑D, Scud‑ER, serta varian lokal Golan‑1 dan Golan‑2. Selain itu, terdapat misil seperti Maysaloun, M‑600 berbasis Fateh‑110, Fateh‑313, Shahab‑1 dan Shahab‑2, hingga Zelzal‑1, Zelzal‑2, dan Zelzal‑3 yang diproduksi di bawah lisensi.

Nama lain yang menonjol adalah Naze’at, misil jarak pendek yang ditingkatkan dengan sistem pemandu. Rangkaian senjata ini menunjukkan bahwa Suriah pernah memiliki ekosistem lengkap pengembangan misil, dari hulu hingga hilir.

Meski banyak fasilitas produksi misil balistik mengalami kerusakan akibat perang dan serangan udara, pengalaman teknis yang tersimpan di SSRC dinilai tidak hilang begitu saja. Pengetahuan ini menjadi aset strategis yang dapat diadaptasi untuk pengembangan teknologi baru, termasuk drone bersenjata dan roket berpemandu presisi.

Di sisi lain, SSRC juga tercatat mengembangkan bom termobarik ODAB, senjata dengan daya hancur tinggi yang efektif dalam perang perkotaan. Produksi senjata jenis ini menunjukkan kemampuan Suriah dalam menguasai teknologi hulu ledak non-konvensional.

Fokus baru pada drone memang menawarkan banyak keuntungan, mulai dari biaya produksi yang lebih murah hingga fleksibilitas operasi. Namun, ketergantungan berlebihan pada satu jenis sistem senjata dinilai berisiko dalam jangka panjang.

Modernisasi senjata era Assad, menurut analis, seharusnya dilakukan secara paralel. Drone dikembangkan sebagai ujung tombak, sementara roket MLRS, misil jarak pendek, dan senjata infanteri dimodernisasi untuk menjaga kedalaman kekuatan militer.

Pendekatan ini juga memberikan ruang bagi Suriah untuk mempertahankan kemandirian industri pertahanannya. Produksi lokal Type 58, Golan S‑01, atau seri Golan MLRS, misalnya, mengurangi ketergantungan pada impor di tengah sanksi internasional.

Selain itu, keberlanjutan industri senjata lama membuka peluang adaptasi teknologi. Sistem roket seperti M‑302 atau Golan‑400 dapat dikawinkan dengan teknologi pemandu sederhana yang sebelumnya dikembangkan untuk drone.

Dalam konteks geopolitik, modernisasi ini penting bagi posisi tawar Suriah di kawasan. Negara tersebut tidak hanya dilihat sebagai pengguna drone murah, tetapi juga sebagai negara dengan spektrum kemampuan militer yang luas.

Bagi pemerintahan Assad, menjaga kesinambungan SSRC berarti menjaga simbol kedaulatan nasional. Industri pertahanan sejak lama diposisikan sebagai bukti bahwa Suriah mampu berdiri di tengah tekanan regional dan global.

Sejumlah pengamat menilai bahwa strategi ideal Suriah adalah mengintegrasikan pengalaman lama dengan inovasi baru. Warisan Scud, Golan, dan Zelzal tidak ditinggalkan, melainkan dijadikan fondasi bagi sistem senjata generasi berikutnya.

Dengan cara itu, Suriah tidak memutus mata rantai industri pertahanannya sendiri. Drone menjadi wajah masa depan, sementara modernisasi senjata era Assad tetap menjadi tulang punggung kekuatan militer negara tersebut.

Pada akhirnya, keseimbangan antara tradisi dan inovasi inilah yang akan menentukan apakah Suriah mampu mempertahankan relevansinya sebagai kekuatan militer regional. Dalam lanskap perang modern yang terus berubah, kontinuitas justru bisa menjadi senjata paling strategis.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Suriah dan Jalan Modernisasi Alutsista"

Post a Comment