Featured post

Harian Asia Raya Memberitakan Janji Jepang untuk Kemerdekaan Indonesia, 1944

ASIA - RAYA ||   Waktu: September 1944 Tempat: Tokoh: Peristiwa: Harian Asia Raya terbitan 8 September 2604 (=1944) memberitakan janji...

Somaliland Buka Diskusi Publik Mengenai Pernyataan Turki

Ankara, 27 Desember 2025 – Pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Turki yang mengecam pengakuan Israel atas kemerdekaan Somaliland telah memicu respons tajam dari akun resmi Republik Somaliland di platform X. 

Dalam cuitannya, admin Somaliland menyebut sikap Ankara sebagai hal yang absurd karena mengabaikan kehendak rakyat Somaliland, sambil menyerukan penghormatan terhadap kedaulatan dan penentuan nasib sendiri. Cuitan ini, yang disertai gambar pernyataan Turki, telah menarik ribuan interaksi dan ratusan komentar dari para pengikut.

Cuitan Somaliland menekankan bahwa masa depan wilayah tersebut harus ditentukan oleh penduduknya sendiri, bukan oleh kekuatan eksternal yang berbicara atas nama Mogadishu, ibu kota Somalia. 

Ada juga yang menyarankan agar Hargeisa, ibu kota Somaliland, mengevaluasi ulang kehadiran kantor Turki di wilayah mereka, dengan alasan bahwa kemitraan sejati harus menghormati kemerdekaan tanpa melemahkannya. Hal ini langsung memicu perdebatan sengit di media sosial.Banyak komentar dari pengikut mendukung posisi Somaliland, melihat pengakuan Israel sebagai langkah positif menuju stabilitas regional. 

Seorang pengguna, @Dozzy_Dozzy22, menyatakan "WE STAND WITH SOMALILAND" disertai gif animasi, mencerminkan solidaritas dari komunitas internasional yang melihat Somaliland sebagai entitas yang layak diakui secara independen.Kritik terhadap Turki juga mendominasi sebagian komentar.

Pengguna @ArtisticAtmo menuduh Turki menduduki tanah Kurdi dan Yunani, sambil membenci berita tentang penentuan nasib sendiri. Hal ini menggarisbawahi hipokrisi yang dirasakan, di mana Turki dianggap ikut campur dalam urusan negara lain seperti Siprus Utara, namun mengecam tindakan Israel.

Beberapa netizen dari komunitas Kurdi turut bergabung dalam diskusi, menyatakan dukungan mereka terhadap Somaliland. @ahengdar2000 menyoroti apa yang dia sebut campur tangan Turki di Suriah yang merugikan hak-hak dasar Kurdi, sambil menyebut pernyataan Turki sebagai "kotoran tanpa malu". 

Ini menunjukkan bagaimana isu ini meluas ke konflik etnis lain di Timur Tengah.

Di sisi lain, pendukung Turki mengecam Somaliland sebagai pion dalam kampanye PR Israel. Pengguna @sukrualniacik menulis bahwa bangsa Muslim sejati seharusnya mengibarkan bendera tauhid melawan kolonialis yang berlumuran darah Muslim, bukan melawan Turki yang menawarkan persahabatan tulus di Afrika.

Komentar ini mendapat banyak like, mencerminkan sentimen penolakan atas Israel yang dinilai mengganggu keamanan regional Afrika Timur.

Pengguna @egoparator menyebut Somaliland sebagai propagandist UEA yang mempromosikan separatisme di Somalia, disertai gambar yang menyindir.

Ini menyoroti perspektif bahwa pengakuan Israel adalah bagian dari agenda geopolitik yang lebih besar, melibatkan aktor seperti Uni Emirat Arab.

Beberapa komentar lebih provokatif, seperti @drewidia yang menyerukan "Free Somaliland from the Somali Occupation", menekankan pandangan bahwa Somaliland telah lama terpisah secara de facto dari Somalia sejak 1991. Ini mendapat dukungan dari netizen yang melihatnya sebagai perjuangan kemerdekaan yang sah.

Netizen Yunani dan Armenia juga ikut serta, dengan @aramis14
 menyatakan "You don't need turkey, fuck them", mencerminkan ketegangan historis dengan Turki. Komentar ini mendapat respons balik dari pengguna Turki yang membela posisi negaranya.

Kritik terhadap aliansi Somaliland dengan Israel datang dari @BameFor, yang menyebutnya sebagai "asosiasi jahat dengan negara apartheid". Mereka memperingatkan bahwa sejarah tidak akan memaafkan Somaliland atas pilihan ini, menyoroti isu Palestina yang sensitif dan kampanye genosida di Gaza oleh Tel Aviv yang masih berlangsung hingga sekarang.

Pengguna @EyalBengal membandingkan situasi dengan Siprus Utara, bertanya mengapa Israel tidak boleh mengakui Somaliland sementara Turki mengakui wilayah tersebut. Ini memicu debat tentang konsistensi dalam politik internasional.Beberapa komentar lebih ringan, seperti @SilentMajo70841
 yang optimis "No one can stop Somaliland. USA next", meramalkan pengakuan dari Amerika Serikat selanjutnya. Ini menunjukkan harapan tinggi di kalangan pendukung Somaliland.

Netizen @QojeYasin membagikan gambar pernikahan via video call, mungkin sebagai metafor atau distraksi, tetapi tetap relevan dengan tema persetujuan dan saksi dalam konteks politik. Ini menambah variasi dalam respons.

Dukungan dari Yunani muncul lagi melalui @Axilleus3, yang menulis "Long live Somaliland" dengan emoji bendera Yunani, menandakan solidaritas melawan pengaruh Turki di kawasan.

Pengguna @SpencerKle55479 menyoroti pendudukan Turki di Siprus Utara sejak 1974, menyebutnya aneh bahwa Turki menggurui Somaliland. Ini memicu balasan tentang sejarah kompleks invasi Yunani terlebih dahulu.

Komentar provokatif dari @tolgaakpinar
, "Okay, you're right, you son of a bitch :)", disertai gambar, menunjukkan nada sarkastis yang memanaskan diskusi.

Netizen @nah_iri menuduh komentator Turki sebagai teroris Islamis, sambil membagikan video tentang radikalisasi di sekolah Turki, memperluas perdebatan ke isu pendidikan dan jihad.

Beberapa pengguna seperti @meme_presale mengejek bendera Somaliland, mengatakan "I never see this flag before", mencerminkan kurangnya pengakuan global yang masih menjadi tantangan bagi Somaliland.

Kritik tajam datang dari @khurramusman83, yang menyebut Somaliland sebagai "kanker Zionis", menekankan oposisi kuat terhadap aliansi dengan Israel.Akhirnya, dukungan dari komunitas Biafra muncul melalui @OluremiAmechi, yang mengucapkan selamat dan berharap Biafra menyusul, menghubungkan perjuangan kemerdekaan di Afrika. Diskusi ini menunjukkan bagaimana cuitan satu ini telah menjadi katalisator perdebatan global tentang kedaulatan, hipokrisi, dan geopolitik.

Tren baru

Pengakuan Israel terhadap Somaliland berpotensi membuka apa yang kerap disebut sebagai kotak Pandora geopolitik di kawasan Afrika dan Timur Tengah. Langkah ini tidak berdiri sendiri, melainkan mengikuti pola sebelumnya ketika Israel secara terang-terangan mendukung dan mengakui secara de facto struktur separatis di Suriah, khususnya milisi Druze di kawasan Jabal Bashan. Dua kasus ini memberi sinyal bahwa Israel mulai memandang aktor non-negara dan entitas separatis sebagai mitra strategis alternatif di tengah isolasi diplomatik yang masih dihadapi dari banyak negara.

Somaliland sendiri sejak 1991 memisahkan diri dari Somalia dan membangun struktur negara de facto yang relatif stabil, meski tanpa pengakuan internasional luas. Jika Israel benar-benar melangkah ke arah pengakuan formal, hal ini akan menjadi preseden penting karena datang dari negara dengan kapasitas diplomatik, militer, dan intelijen yang signifikan. Pengakuan semacam itu akan memberi legitimasi politik baru bagi Somaliland, sekaligus mendorong aktor lain untuk mempertimbangkan langkah serupa.

Kasus Suriah menjadi contoh yang relevan. Dukungan Israel terhadap komunitas Druze bersenjata di wilayah Jabal Bashan, yang berada di luar kendali efektif Damaskus, menunjukkan pendekatan pragmatis berbasis keamanan dan kepentingan regional. Dengan mengabaikan kedaulatan negara yang bermusuhan, Israel secara tidak langsung mengakui realitas fragmentasi negara di kawasan konflik, dan menjadikannya instrumen politik luar negeri.

Pola ini berpotensi ditiru oleh kelompok-kelompok separatis lain, terutama di negara-negara yang secara ideologis atau politik tidak mengakui Israel. Bagi mereka, Israel bisa dipandang sebagai pintu masuk menuju legitimasi internasional, bantuan keamanan, teknologi, dan akses diplomatik tidak langsung ke Barat. Hubungan semacam ini tidak harus dimulai dari pengakuan formal, tetapi cukup melalui kerja sama keamanan, ekonomi, atau kemanusiaan.

Di Afrika, dinamika ini bisa berdampak luas. Selain Somaliland, terdapat sejumlah wilayah dengan aspirasi separatis atau otonomi luas, seperti di Ethiopia, Sudan, dan bahkan kawasan Sahel. Jika Israel menunjukkan kesediaan membangun hubungan dengan entitas semacam itu, maka peta diplomasi Afrika dapat mengalami pergeseran, dengan meningkatnya diplomasi paralel di luar kerangka negara-bangsa yang diakui PBB.

Di Timur Tengah, implikasinya lebih sensitif. Banyak negara yang tidak mengakui Israel justru memiliki wilayah konflik internal atau kelompok etno-religius yang terpinggirkan. Bagi kelompok-kelompok ini, menjalin kontak dengan Israel bisa menjadi alat tawar menawar terhadap pemerintah pusat, sekaligus bentuk perlawanan simbolik terhadap negara yang mereka anggap menindas.

Namun, strategi ini juga mengandung risiko besar. Mendukung atau mengakui entitas separatis dapat memperdalam konflik, memicu perang proksi, dan mempercepat disintegrasi negara-negara rapuh. Israel sendiri berpotensi dituduh menerapkan standar ganda, mendukung integritas wilayah di satu tempat, namun melemahkannya di tempat lain demi kepentingan strategis jangka pendek.

Dari sudut pandang hukum internasional, pengakuan terhadap entitas separatis tanpa proses yang diakui secara global akan menimbulkan kontroversi. Prinsip kedaulatan dan keutuhan wilayah masih menjadi fondasi utama sistem internasional. Setiap pelanggaran terhadap prinsip ini, apalagi oleh negara yang sudah kontroversial, akan memicu resistensi diplomatik yang keras.

Bagi negara-negara yang tidak mengakui Israel, fenomena ini menjadi tantangan keamanan baru. Ancaman tidak lagi datang hanya dari tekanan eksternal, tetapi juga dari kemungkinan munculnya diplomasi bayangan antara Israel dan aktor non-negara di dalam wilayah mereka. Ini dapat memperlemah kontrol pusat dan memperumit upaya rekonsiliasi nasional.

Pada akhirnya, jika pengakuan Israel terhadap Somaliland diikuti langkah serupa di tempat lain, maka dunia akan menyaksikan normalisasi hubungan internasional yang tidak lagi berbasis negara, melainkan aktor. Kotak Pandora itu, sekali terbuka, sulit ditutup kembali, dan dampaknya bisa mengubah cara konflik, pengakuan, dan kedaulatan dipahami dalam politik global modern.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Somaliland Buka Diskusi Publik Mengenai Pernyataan Turki"

Post a Comment