Pasukan pemerintah Suriah melanjutkan ofensif mereka di kota Aleppo utara, dengan fokus terbaru pada lingkungan Sheikh Maqsoud setelah menguasai sebagian besar Ashrafieh dalam beberapa hari terakhir. Bentrokan sengit antara tentara Suriah dan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi telah berlangsung selama tiga hari, memaksa ribuan warga sipil mengungsi dari rumah mereka.
Serangan ini menandai eskalasi konflik di Aleppo, terutama di dua lingkungan yang sejak lama menjadi titik sensitivitas keamanan akibat dominasi SDF dan resistensi terhadap kontrol pemerintah pusat. Pemerintah Suriah mengumumkan status “zona militer tertutup” untuk Sheikh Maqsoud dan Ashrafieh, memicu tindakan militer lebih lanjut.
Tentara Suriah mendeklarasikan bahwa semua posisi SDF di wilayah itu akan dianggap sebagai sasaran militer yang sah, setelah tuduhan eskalasi serangan dan “pembantaian” terhadap warga oleh kelompok tersebut. Pernyataan ini menunjukkan tekad pemerintah untuk memaksa kelompok bersenjata itu keluar dari kawasan permukiman.
Pemberlakuan jam malam total di Sheikh Maqsoud, Ashrafieh, dan beberapa lingkungan sekitarnya menandai langkah keras pasukan pemerintah untuk mengamankan wilayah strategis ini. Warga diminta menghindari pergerakan di kawasan tersebut demi keselamatan.
Pemerintah Suriah juga membuka koridor kemanusiaan untuk membantu evakuasi penduduk sipil, meskipun situasi di lapangan tetap tegang. Ribuan keluarga berupaya keluar dari zona tempur untuk mencari tempat aman di bagian lain Aleppo.
Menurut data awal dari organisasi kemanusiaan, bentrokan ini telah menyebabkan puluhan ribu penduduk terlantar dalam hitungan hari. Organisasi bantuan melaporkan kebutuhan mendesak untuk bantuan medis, makanan, dan tempat penampungan sementara bagi yang mengungsi.
SDF, yang sebelumnya berkolaborasi dengan pemerintah dalam beberapa kesepakatan keamanan, kini menghadapi sikap tegas dari Damaskus. Pemerintah menuntut penarikan penuh milisi itu dari kawasan permukiman Aleppo dan penyerahan kendali keamanan sepenuhnya kepada struktur negara.
Konflik ini juga memperburuk hubungan politik antara Damaskus dan pihak Kurdi, meskipun sebelumnya sudah ada beberapa upaya integrasi milisi SDF ke dalam tentara nasional berdasarkan perjanjian yang disepakati pada Maret 2025. Namun, implementasi perjanjian itu terhambat dan akhirnya memicu kebuntuan.
Bentrokan terbaru menunjukkan bahwa integrasi militer yang dijanjikan belum berjalan mulus, dan ketidakpercayaan masih tinggi antara kedua belah pihak. SDF sendiri mengklaim keterlibatannya terbatas untuk pertahanan lokal, namun tuduhan berbalas terus muncul dari kedua sisi.
Serangan mortar dan artileri telah menghantam kawasan permukiman, menyebabkan korban sipil tak hanya pada orang dewasa tetapi juga anak-anak. Laporan awal menunjukkan puluhan warga terluka akibat tembakan yang merembet ke rumah-rumah warga.
Tentara Suriah juga memanfaatkan unit dari Kementerian Dalam Negeri untuk memasuki Ashrafieh setelah mundurnya beberapa faksi bersenjata. Ini memperkuat kendali pemerintah atas lingkungan yang sebelumnya semi‑otonom.
Tidak hanya bentrokan di darat, operasi militer ini juga mencakup tembakan artileri intens dari unit pemerintah yang bertujuan menghancurkan posisi militer lawan di jantung Aleppo utara.
SDF sendiri menegaskan bahwa klaim pemerintah tentang mereka merupakan alasan peningkatan kekerasan tidak sepenuhnya akurat, dan mereka menyalahkan pemerintah atas eskalasi serangan di Aleppo. Perselisihan naratif ini ikut memperumit penyelesaian konflik secara damai.
Sejak awal konflik Syria pada 2011, Sheikh Maqsoud dan Ashrafieh telah menjadi simbol sensitivitas etnis dan politik di Aleppo, dengan populasi campuran yang besar yang dipengaruhi berbagai kekuatan politik bersenjata.
Penduduk lama kawasan itu menghadapi dilema berat antara tetap di rumah mereka atau meninggalkan komunitas yang telah mereka huni selama puluhan tahun akibat ketidakpastian keamanan dan ancaman terus menerus.
Beberapa laporan independen dan media lokal menunjukkan bahwa lebih dari 100.000 warga sipil telah dipaksa meninggalkan rumah mereka menyusul eskalasi terbaru, menunjukkan krisis kemanusiaan yang semakin mendalam di wilayah tersebut.
Jam malam dan penutupan akses ke beberapa jalan utama membuat kegiatan sehari‑hari warga semakin sulit, memperparah kondisi kehidupan yang sudah rapuh akibat konflik berkepanjangan di negeri tersebut.
Media pemerintah Suriah menuduh SDF bertindak seperti milisi yang mengancam keselamatan warga dan stabilitas kota, sementara kelompok Kurdi menolak tuduhan tersebut dan meminta dukungan internasional untuk menghentikan serangan terhadap kawasan mereka.
Ketegangan ini berdampak luas tidak hanya bagi Aleppo, tetapi juga pada dinamika politik Suriah secara keseluruhan, terutama dalam upaya integrasi unit bersenjata nonnegara ke dalam struktur keamanan negara.
Organisasi internasional dan beberapa negara asing menyerukan de‑eskalasi serta akses bantuan kemanusiaan ke kelompok warga paling rentan di kawasan konflik ini, menyoroti meningkatnya kebutuhan bantuan mendesak.
Dengan bentrokan yang terus berlanjut dan situasi sipil yang semakin kritis, masa depan Sheikh Maqsoud dan Ashrafieh tetap menjadi titik panas konflik yang membutuhkan solusi politik dan keamanan yang mendesak.


0 Response to "Suriah: Upaya Gubernur Aleppo Bersihkan Kantong Pemberontak Terakhir"
Post a Comment