Featured post

Harian Asia Raya Memberitakan Janji Jepang untuk Kemerdekaan Indonesia, 1944

ASIA - RAYA ||   Waktu: September 1944 Tempat: Tokoh: Peristiwa: Harian Asia Raya terbitan 8 September 2604 (=1944) memberitakan janji...

Zubaidi, Hamedti, dan Bayangan Politik Regional


Beberapa pengamat politik Yaman dan kawasan Teluk menyamakan perilaku Aidrous Al Zubaidi dengan langkah pemimpin-pemimpin lain di Timur Tengah dan Afrika Utara. Perbandingan ini muncul terutama ketika Zubaidi kabur dari Aden menuju Uni Emirat Arab, sebuah langkah yang bagi sebagian warga Hadramaut terasa seperti kemenangan dan pembebasan atas wikayah mereka dari cengkeraman STC.

Langkah Zubaidi dikaitkan dengan pengalaman serupa yang dialami Bashar Al Assad saat kabur dari Damaskus menuju Rusia, usai dilengserkan oposisi. Bagi sebagian warga, terutama yang tinggal di Hadramaut, peristiwa ini menimbulkan persepsi bahwa kekuatan Aden menindas wilayah mereka, dan kaburnya Zubaidi dianggap sebuah kulminasi kemenangan.

Perbandingan kedua muncul antara Zubaidi dan Mohamed Hamdan Dagalo alias Hemedti dari Sudan. Kedua tokoh ini diketahui menerima dukungan kuat dari Uni Emirat Arab, sehingga sebagian pengamat menilai perilaku dan hubungan mereka dengan kekuatan eksternal memiliki kemiripan tertentu.

Gejala perbandingan ini terjadi karena warga dan analis regional mencoba menafsirkan perilaku para pemimpin melalui kerangka geopolitik yang sudah dikenal. Mereka menggunakan analogi dengan pemimpin lain untuk memberikan konteks terhadap langkah politik yang dianggap kontroversial.

Bagi masyarakat Hadramaut, kepergian Zubaidi dipandang bukan sekadar perpindahan fisik, tetapi juga simbolik dari hubungan yang timpang antara kekuatan pusat di Aden dan wilayah-wilayah yang merasa terpinggirkan.

Fenomena ini bukan hanya sekadar opini, tetapi juga bagian dari cara masyarakat membaca dan memahami dinamika kekuasaan. Dengan membandingkan Zubaidi dengan Assad atau Hemedti, mereka mencoba menempatkan peristiwa lokal dalam narasi global yang lebih luas.

Beberapa analis politik menyatakan bahwa perbandingan ini muncul dari ketidakpuasan lama yang sudah menumpuk di Hadramaut. Ketimpangan politik dan ekonomi, serta dominasi Aden, khususnya STC yang kini sudah membubarkan diri, dalam pengambilan keputusan nasional, membuat langkah Zubaidi terlihat seperti “kabur usai dilengserkan”.

Di sisi lain, hubungan Zubaidi dengan UAE menimbulkan persepsi bahwa ia memiliki kekuatan eksternal yang melindungi posisinya. Hal ini menambah kemiripan dengan figur seperti Hemedti, yang juga dikenal memiliki patron kuat di Abu Dhabi.

Perbandingan ini juga berkaitan dengan psikologi simbolik. Ketika seorang pemimpin meninggalkan wilayah konflik atau pusat politik, masyarakat cenderung menafsirkan langkah tersebut sebagai tindakan pengecut atau pengkhianatan, meskipun alasan strategis mungkin lebih kompleks.

Media lokal dan internasional memainkan peran penting dalam membentuk persepsi ini. Berita tentang keberangkatan Zubaidi ke UAE sering disandingkan dengan komentar analis yang menekankan kemiripan dengan kasus Assad atau Hemedti, memperkuat narasi perbandingan.

Selain itu, fenomena ini mencerminkan bagaimana kekuatan eksternal mempengaruhi politik internal Yaman. Dukungan UAE terhadap Zubaidi dianggap serupa dengan dukungan Rusia terhadap Assad atau dukungan UAE terhadap Hemedti, sehingga perilaku para tokoh ini mudah dibandingkan.

Bagi warga Hadramaut, analogi dengan Assad menciptakan rasa frustasi karena mereka merasa tertindas oleh keputusan yang diambil jauh dari wilayah mereka. Mereka melihat pemimpin lebih mengutamakan perlindungan pribadi ketimbang kepentingan rakyat.

Perbandingan dengan Hemedti lebih bersifat geopolitik dan strategis. Kedua tokoh ini sama-sama memanfaatkan dukungan militer dan finansial dari UAE untuk memperkuat posisi mereka, sehingga warga dan pengamat menilai perilaku Zubaidi tidak sepenuhnya independen.

Fenomena menyamakan pemimpin lokal dengan figur global menunjukkan adanya kesadaran geopolitik di tingkat masyarakat lokal. Warga menggunakan perbandingan ini untuk menilai motivasi dan kredibilitas pemimpin mereka.

Beberapa pengamat politik menyebut gejala ini sebagai bentuk politik perbandingan atau komparasi politik. Dengan membandingkan tokoh lokal dengan figur internasional, masyarakat bisa menyederhanakan kompleksitas konflik dan menempatkan peristiwa lokal dalam konteks global.

Selain itu, persepsi ini juga muncul karena kurangnya transparansi dalam pengambilan keputusan Zubaidi. Warga Hadramaut merasa tidak cukup mendapat penjelasan mengenai langkahnya meninggalkan Aden, sehingga mereka mencari analogi dari kasus serupa di tempat lain.

Narasi media juga memperkuat stereotip ini. Laporan tentang pertemuan Zubaidi dengan pejabat UAE dan kepergiannya ke luar negeri sering disajikan berdampingan dengan sejarah Assad dan Hemedti, sehingga persepsi kemiripan semakin kuat.

Gejala menyamakan ini bisa dipandang sebagai cara masyarakat mengekspresikan ketidakpuasan terhadap ketimpangan kekuasaan. Analogi digunakan untuk menekankan rasa marah, kecewa, atau frustasi terhadap pimpinan yang dianggap tidak memprioritaskan wilayah mereka.

Di sisi lain, ada juga pengamat yang menekankan bahwa perbandingan ini tidak sepenuhnya akurat. Zubaidi mungkin memiliki alasan strategis yang sah untuk kepergiannya, sementara Assad dan Hemedti berada dalam konteks politik dan militer yang berbeda.

Meskipun demikian, persepsi warga Hadramaut tetap kuat. Mereka mengaitkan langkah Zubaidi dengan perasaan dijajah oleh kekuatan STC Aden, sehingga analogi dengan pemimpin lain yang mencari perlindungan di luar negeri dianggap relevan.

Secara keseluruhan, gejala menyamakan Zubaidi dengan Assad dan Hemedti mencerminkan interaksi kompleks antara politik lokal, geopolitik, dan persepsi publik. Analogi ini muncul dari ketidakpuasan, pengaruh media, serta kesadaran warga terhadap dinamika kekuasaan global dan regional.

Pada akhirnya, fenomena ini menegaskan bahwa langkah seorang pemimpin lokal bisa memiliki dampak psikologis yang luas, terutama jika dikaitkan dengan isu ketimpangan kekuasaan dan dominasi eksternal. Persepsi publik sering kali membentuk narasi yang sulit diabaikan dalam politik lokal.

Baca selanjutnya

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Zubaidi, Hamedti, dan Bayangan Politik Regional"

Post a Comment