Featured post

Harian Asia Raya Memberitakan Janji Jepang untuk Kemerdekaan Indonesia, 1944

ASIA - RAYA ||   Waktu: September 1944 Tempat: Tokoh: Peristiwa: Harian Asia Raya terbitan 8 September 2604 (=1944) memberitakan janji...

Gurita Bisnis Aidrous Zubaidi di Yaman

Nama Aidrous al-Zubaidi kembali menjadi sorotan setelah media Saudi Okaz membuka berkas dugaan jaringan bisnis dan investasi yang dikaitkan dengan tokoh utama Dewan Transisi Selatan (STC) yang kemudian dikeluarkan dari PLC tersebut. Laporan itu memunculkan gambaran tentang kekuatan ekonomi besar yang dibangun di tengah konflik dan lemahnya institusi negara di Yaman selatan.

Sumber-sumber Yaman yang dikutip menyebut al-Zubaidi terlibat dalam rangkaian panjang dugaan pelanggaran, mulai dari perampasan tanah publik hingga penguasaan perusahaan milik warga dan pengusaha Yaman. Praktik ini disebut berlangsung sistematis sejak Dewan Transisi Selatan (STC) menguat di Aden.

Menurut sumber tersebut, al-Zubaidi disebut sebagai salah satu investor terbesar di kota Aden. Ia diklaim menguasai ratusan bidang tanah dan kawasan perumahan yang diperoleh melalui mekanisme di luar hukum, memanfaatkan kekuasaan militer dan pengaruh politik.

Sejumlah aset yang diambil alih itu disebut berasal dari tanah milik negara hingga properti pribadi. Salah satu kasus yang paling menonjol adalah penguasaan lahan milik keluarga mendiang pengusaha Ali Saif al-Ruhaidi, yang kemudian diubah menjadi markas resmi Dewan Transisi Selatan di Aden.

Penguasaan aset ini tidak hanya berdampak pada kepemilikan properti, tetapi juga mengubah peta ekonomi kota. Aden yang seharusnya menjadi pusat perdagangan nasional justru dinilai berkembang sebagai ekonomi tertutup yang dikendalikan oleh segelintir elite bersenjata.

Dalam struktur bisnis tersebut, keluarga inti al-Zubaidi memegang peranan penting. Jihad al-Zubaidi, menantunya yang berusia 28 tahun, disebut menjadi pengelola utama berbagai proyek investasi keluarga di Aden.

Nama Jihad al-Zubaidi mencuat secara tiba-tiba di dunia usaha Yaman. Dalam waktu singkat, ia disebut berubah menjadi pemain besar di pasar tanpa rekam jejak bisnis sebelumnya yang dapat menjelaskan lonjakan kekayaan tersebut.

Beberapa perusahaan yang dikaitkan dengan jaringan ini antara lain Al-Arabiya Furniture, Al-Arabiya Center, serta Al-Ahliya Exchange. Perusahaan-perusahaan ini bergerak di sektor ritel, properti, dan keuangan, yang menjadi tulang punggung ekonomi perkotaan Aden.

Selain sektor sipil, gurita bisnis al-Zubaidi juga merambah sektor strategis, terutama energi. Setelah pasukan Dewan Transisi Selatan menguasai wilayah minyak di Shabwa pada 2018, kendali atas sektor ini disebut berpindah ke lingkaran keluarga al-Zubaidi.

Abdul Salam Hamid, ipar al-Zubaidi yang juga mantan Menteri Transportasi, disebut mendirikan sejumlah perusahaan minyak pasca penguasaan wilayah tersebut. Ia kemudian ditunjuk sebagai pimpinan perusahaan-perusahaan itu sekaligus pengawas komite ekonomi khusus.

Komite ekonomi ini disebut menjadi instrumen utama penggalangan dana. Setiap bulan, komite tersebut diklaim mengumpulkan lebih dari tiga miliar rial Yaman dari pungutan tidak resmi atas setiap pengiriman bahan bakar yang masuk ke pelabuhan minyak Aden.

Pungutan tersebut dinilai membebani pasar dan masyarakat. Harga bahan bakar dan kebutuhan pokok melonjak, sementara pemasukan itu tidak tercatat dalam kas negara maupun mekanisme anggaran resmi.

Dua perusahaan jasa minyak yang dikaitkan langsung dengan al-Zubaidi adalah Isnad Oil Services dan perusahaan Faqm. Kedua entitas ini disebut dikelola langsung oleh Abdul Salam Hamid atas nama kepentingan keluarga.

Dominasi di sektor minyak memperkuat posisi ekonomi Dewan Transisi Selatan. Kendali atas energi tidak hanya memberi pemasukan besar, tetapi juga alat tekanan politik terhadap pemerintah pusat dan aktor regional.

Di sisi lain, laporan Okaz juga menyoroti dampak kemanusiaan dari praktik tersebut. Sejumlah investor lokal disebut kehilangan seluruh aset dan proyek yang telah dibangun bertahun-tahun.

Kasus keluarga Ali Saif al-Ruhaidi menjadi simbol dari kehancuran mimpi para investor. Putri mendiang pengusaha itu muncul dalam sebuah video yang menyentuh, mengungkap bagaimana proyek wisata senilai lebih dari tujuh juta dolar AS dirampas secara paksa.

Proyek tersebut awalnya dirancang sebagai resor wisata terpadu yang diharapkan membuka lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi lokal. Namun, menurut pengakuan keluarga, proyek itu diambil alih oleh jaringan al-Zubaidi tanpa kompensasi.

Tekanan dan kehilangan itu disebut berdampak langsung pada kondisi psikologis Ali Saif al-Ruhaidi. Keluarga menyatakan bahwa sang pengusaha wafat dalam kondisi terpukul berat akibat perampasan aset tersebut.

Melalui pernyataan publiknya, keluarga al-Ruhaidi meminta pemerintah Yaman dan komunitas internasional turun tangan. Mereka menuntut keadilan serta pengembalian aset yang disebut dirampas secara tidak sah.

Laporan tentang gurita bisnis al-Zubaidi ini mempertegas bahwa konflik Yaman bukan hanya soal senjata dan wilayah, tetapi juga perebutan sumber daya ekonomi. Di tengah negara yang rapuh, kekuasaan politik dan bisnis menyatu, meninggalkan masyarakat sebagai pihak yang paling dirugikan.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Gurita Bisnis Aidrous Zubaidi di Yaman"

Post a Comment